Pemkot Kediri melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri memperkuat peran Posyandu sebagai Pusat Pelayanan Terpadu Masyarakat. Tidak hanya seputar penimbangan balita dan pemeriksaan fisik lansia, Posyandu kini bertransformasi menjadi jembatan layanan dasar masyarakat yang mencakup sektor sosial hingga pendidikan.
Hal tersebut terlihat dalam aktivitas Posyandu Pos 5 yang berlokasi di RT 03 RW 05, Kelurahan Bangsal, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Ketua Posyandu Pos 5, Nining Sulistyorini, mengungkapkan bahwa saat ini pelayanan posyandu mulai mengintegrasikan Standar Pelayanan Minimal (6 SPM).
“Pelayanan sekarang mencakup kader yang tidak hanya fokus pada satu kegiatan posyandu saja. Lewat sistem ini, warga bisa menyampaikan berbagai keluhan untuk dicatat, mulai dari kendala pendidikan hingga masalah bantuan sosial seperti DTKS,” ujar Nining saat ditemui di sela kegiatan Posyandu.

Nining menjelaskan keluhan atau aspirasi warga yang belum terselesaikan di tingkat posyandu akan langsung diteruskan ke pihak kelurahan untuk ditindaklanjuti oleh lurah setempat.
Meski ruang lingkupnya meluas, tugas pokok pemantauan kesehatan masyarakat tetap berjalan intensif. Setiap bulannya, Posyandu Kelurahan Bangsal Pos 5 melayani puluhan warga yang terdiri dari sekitar 35 orang lansia dan 15 hingga 20 balita.

Menurut Nining, pemeriksaan lansia mencakup cek tekanan darah, gula darah, asam urat, hingga kolesterol. Dari hasil pemeriksaan rutin, hipertensi atau tekanan darah tinggi menjadi keluhan yang paling banyak ditemukan.
“Untuk lansia mayoritas mengeluhkan tensi. Pemicunya selain faktor usia, ada juga yang karena susah tidur atau kelelahan kerja. Kalau tekanannya tinggi, kami catat dan sarankan untuk penanganan lebih lanjut ke Ponkesdes atau Puskesmas,” tuturnya.
Untuk penyediaan obat-obatan, Posyandu saat ini tidak lagi membagikan obat secara langsung di tempat. Pasien yang membutuhkan tindakan medis diarahkan langsung ke Pondok Bersalin/Kesehatan Desa (Ponkesdes) di kelurahan atau Puskesmas melalui koordinasi dengan bidan wilayah yang mengawasi.

Di balik operasionalnya, Nining mengakui bahwa untuk mengajak warga datang ke Posyandu bukan tanpa tantangan. Tak jarang, kader menjumpai warga yang enggan hadir karena malas atau beralasan anak masih tertidur.
Menyiasati hal itu, sebanyak 10 kader di Pos 5 rutin melakukan pendekatan jemput bola dari rumah ke rumah. Para kader mengajak warga, khususnya lansia, untuk hadir bukan semata-mata demi periksa medis, melainkan sebagai sarana refreshing dan temu sapa dengan rekan sebaya.
“Kami ajak dengan santai. Ayo ke Posyandu, di sana ramai, bisa ketemu teman seusia untuk ngobrol. Kalau di rumah saja nanti siapa yang diajak bicara? Dengan begitu, warga jadi lebih bersemangat datang,” katanya. (Adv)





