Namaku Sabila, aku kelas X-8 dan minggu lalu aku menemukan sekolahku di masa depan. Bukan lewat mesin waktu, tapi aku menemukannya di halaman belakang sekolahku.
Minggu lalu anak OSIS mengadakan kegiatan bersih-bersih sekolah dan kelasku kebagian halaman belakang sekolah. Di halaman belakang sekolah tersebut, ada sebuah kardus yang sudah berdebu dan hampir rusak.
Aku pun mencoba membukanya dan isi dalam kardus itu terdapat sebuah buku cerita dan terselip plastik dengan label: kapsul waktu kelas X-8 2026 menuju 2035.
Di dalamnya terdapat laptop yang sudah tidak dapat digunakan lagi dan ada buku yang bersampul coklat yang sudah berdebu. Di sampul itu terdapat tulisanku sendiri, tulisan berisi:
Untuk: Sabila, umur 16 tahun, yang suka keliling sekolah dan ke kantin
Dari: Sabila, umur 37 tahun

—-
Aku sontak langsung terkejut, halaman pertama saja sudah membuat hatiku terkejut, gimana dengan halaman berikutnya. Tanggal 9 Oktober 2035, aku kembali ke sekolahku menjadi Kepala Sekolah (Kepsek). Aku di situ dengan wajah kebingungan antara percaya atau tidak.
Sekolahku di tahun 2035 masih dengan alamat yang sama, jalan yang sama, tetapi yang membedakan adalah kelas dan halaman. Kelas yang dulunya cuma lantai satu, sekarang beberapa kelas ada dua lantai, halamannya sekarang makin luas.
Gedungnya masih sama, tetapi semakin diperbesar lagi, dan ada tambahan kelas. Dinding sekolah yang dulunya banyak coretan, sekarang sudah mulus dan tercat mewah. Sekarang metode pembelajarannya lebih maju dibandingkan tahun 2026.
Teknologi sekarang menyebabkan banyak perubahan. Di 2026 di kelasku tidak ada Wi-Fi sama sekali, setiap bulan harus beli paket data. Di tahun 2035 di setiap kelas sudah terpasang Wi-Fi. Guru tidak lagi membawa buku LKS yang mau dijelaskan, tetapi sekarang cukup membawa satu laptop yang sudah lengkap dengan penjelasannya.
Begitu pula dengan murid, murid tidak perlu membawa buku tulis dan LKS terlalu banyak, cukup membawa satu atau dua buku tulis dan laptop.
Tapi, teknologi yang paling berubah adalah dulu kami masuk jam 7 pagi sudah bel. Sekarang, masuknya dibagi dua sesi, ada yang masuk pagi dan masuk siang. Dan sekolah di masa depan menyediakan robot.
Jika rumah siswa terdampak bencana alam, seperti banjir, longsor, dan lain-lain, siswa bisa digantikan dengan robot.
Kita cukup menaruh kamera kecil di bangku meja, lalu bakalan terekam semua yang guru jelaskan dan buat absen bisa digantikan robot tersebut. Metode ini sangat membantu guru dan murid, tidak ada yang telat dengan materi pelajaran.

Bel istirahat pun berbunyi. Di kantin, sekarang tidak ada lagi Kopsis (Koperasi OSIS). Tidak ada lagi yang berebutan es atau jajan. Sekarang diganti dengan layanan dapur digital, tinggal ketik di handphone, kita bisa lihat menu makanan.
Makanannya serba sehat dan bergizi. Untuk pemesanannya tinggal klik di HP, dapat nomor urut dan bakal dipanggil. Menu yang ditawarkan, seperti nasi, ikan, susu, buah, sayur, dan makanan bergizi lainya. Sudah tidak ada lagi yang sakit tenggorokan gara-gara kebanyakan minum es ataupun makan gorengan.
Bangunan di sekolah juga sudah beda. Dulu, atapnya jelek dan sekarang di atas atap diberi daun-daun kecil yang merambat. Tugas murid sekarang bukan cuma bersih-bersih kelas dan teras kelas, tetapi ada tugas tambahan memotong daun di atap sekolah dan menyiraminya, agar tetap terjaga dan tidak ada ulat. Sekolahku di tahun 2026 jarang ada tanaman dan sangat panas, sekarang jadi hijau dan sejuk.
Lalu di buku itu, aku menuliskan tentang seorang murid yang bernama Rara. Dia adalah sahabatku, dia persis sekali dengan muridku yang bernama Rara. Rara adalah murid yang jauh dari orang tua.
Orang tua Rara bekerja di luar kota. Meskipun orang tuanya bekerja di luar kota, mereka selalu menyisihkan waktu untuk menemani Rara makan, tidur, dan menemani Rara bercerita tentang hari ini dan ke depannya.
Di 2026, aku punya sahabat yang bernama Qia dan Lina. Lina mempunyai banyak teman dan gampang akrab dengan teman yang lain. Sebaliknya, Qia berteman dengan itu-itu saja dan jarang akrab dengan yang lain.
Tetapi, dengan perbedaan yang mereka miliki, mereka tidak lupa dengan aku. Mereka tetap menganggap aku sahabat. Di 2035, Lina mempunyai empat cabang kafe dan Qia mempunyai lima cabang toko aksesoris, dan aku menjadi Kepsek di sekolahku sendiri.
Di 2035, orang jarang sekali memakai sepeda motor maupun mobil, tapi diganti dengan sepeda dan mobil listrik. Ada pula yang berjalan kaki dan naik sepeda engkol.
Di tahun sekarang, menjadi lebih ramah lingkungan. Sampah jarang berserakan di samping jalan dan sekarang banyak pohon yang ada di samping jalan. Dengan begitu, udaranya lebih sejuk dan mengurangi polusi.

—-
Tidak terasa, aku sudah membacanya sampai akhir. Di buku itu terdapat pesan buat Sabila (16 tahun):
”Apa yang menurut kamu berubah? Semuanya telah berubah, kecuali manusianya”.
Murid di tahun 2035 masih tetap sama seperti murid tahun 2026. Kalau disuruh maju menjawab pertanyaan, mereka masih ragu dan malu, masih deg-degan saat disuruh maju, masih merasa tidak adil jika guru memberi nilai jelek, masih ngobrol sendiri saat guru menjelaskan pelajaran.
Laptop bisa menggantikan papan tulis, tapi laptop tidak bisa menggantikan rasa bangga saat bisa menjawab pertanyaan yang benar di papan, meskipun yang benar cuma satu doang.
Di tahun 2035, anak-anak juga bisa jatuh cinta diam-diam, suka cemburu melihat orang yang mereka suka ngobrol dengan lawan jenis, masih malu-malu saat ngungkapin perasaannya ke orang yang disukai.
Lingkungan bisa berubah, dari yang gersang, bisa kita ubah menjadi banyak pepohonan dan sejuk. Dari yang berdebu banyak polusi, sekarang polusi berkurang dan debu juga berkurang.
Keluarga bisa saja diganti dengan virtual seperti Rara. Meskipun sepi, yang biasanya makan dan tidur ditemenin orang tua, main sama orang tua, sekarang harus kesepian. Tetapi, setidaknya orang tuanya menyelipkan waktu buat anaknya.
Persahabatan bisa punya banyak teman, tetapi kita punya satu orang yang selalu ngedengerin cerita kita, tempat buat kita mengeluh dan tidak menghakimi, yang selalu memberimu semangat, yang mau mendengarkan lelucon kita.
Sepuluh tahun lagi, PR (Pekerjaan Rumah) tidak banyak yang membuat beban di pikiran. Sepuluh tahun lagi, sekolah bakal berubah, mungkin yang dulunya mengerjakan PR dengan cara tulis tangan, di sepuluh tahun ke depan, cukup mengetik di keyboard laptop.
Tapi, di balik perubahan itu semua, akan selalu ada anak yang suka berkeliling sekolah dan ke kantin.
Sampai jumpa di tahun 2035
Sabila
—-
Lalu aku menutup buku itu, masih dengan pikiran yang benar-benar tidak menyangka. Nafasku tersengal, lalu bel istirahat berbunyi, itu nyata, bukan bel di 10 tahun lagi.
Aku kembali ke kelas, sambil senyum berjalan, melihat sekeliling sekolahku, ternyata masih sama. Aku pun melihat Qia dan Lina berada di depan kelas. Mereka sedang asyik tertawa karena ada salah satu teman kami yang terpeleset kulit pisang, tawa yang sama yang akan tetap ada di 10 tahun lagi.
Aku tersenyum tipis, masih dengan pikiran tidak menyangka, aku bisa melihat kehidupanku di sepuluh tahun ke depan. (*)





