Pemkab Kediri dan PMI Tempa Karakter 2.000 Pelajar lewat Jumbara PMR 2026

Pemerintah Kabupaten Kediri bersama Palang Merah Indonesia (PMI) resmi membuka Jumpa Bakti Gembira (Jumbara) Palang Merah Remaja (PMR) tingkat Madya dan Wira Tahun 2026 di Lapangan Tulungrejo, Kecamatan Pare, Selasa, 28 Juli 2026. Foto: Pemkab Kediri

Pemerintah Kabupaten Kediri bersama Palang Merah Indonesia (PMI) resmi membuka Jumpa Bakti Gembira (Jumbara) Palang Merah Remaja (PMR) tingkat Madya dan Wira Tahun 2026 di Lapangan Tulungrejo, Kecamatan Pare, Selasa, 28 Juli 2026.

Kegiatan ini bertujuan untuk membentuk karakter generasi muda agar memiliki kepedulian, empati, dan semangat pengabdian kepada sesama.

Read More

Jumbara yang digelar dua tahun sekali sejak 1991 itu diikuti sekitar 2.000 peserta dari jenjang SMP dan SMA sederajat se-Kabupaten Kediri. Kegiatan berlangsung selama tiga hari, mulai 28 hingga 30 Juli 2026.

Sekretaris Daerah Kabupaten Kediri M. Solikin membuka kegiatan mewakili Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana. Menurutnya, Jumbara bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi ruang belajar yang menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada pelajar sejak dini.

Keberadaan PMR, lanjut Solikin, memiliki peran penting dalam membentuk karakter pelajar yang peduli terhadap lingkungan sekitar. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal saat menghadapi situasi darurat, seperti bencana maupun kebutuhan donor darah di tengah masyarakat.

 “Ini menjadi bekal yang sangat baik bagi masa depan anak-anak,” kata Solikin.

Ia menambahkan, pembinaan PMR merupakan investasi jangka panjang untuk mencetak kader relawan yang kelak dapat melanjutkan pengabdian sebagai anggota Korps Sukarela (KSR) maupun relawan PMI.

Sementara itu, Ketua PMI Kabupaten Kediri Triatmono Wahyoe mengatakan, peserta mengikuti 12 jenis perlombaan dan simulasi kepalangmerahan.

Kegiatan tersebut meliputi Pertolongan Pertama (PP), Dapur Umum, Travelling Kepalangmerahan, Kesehatan Remaja, Donor Darah Sukarela, Perawatan Keluarga, hingga Stand Up bertema kemanusiaan.

Menurut Triatmono, seluruh rangkaian kegiatan dirancang untuk memperkuat karakter peserta, bukan semata mengejar prestasi dalam perlombaan.

“Yang paling penting bukan sekadar lombanya, tetapi penanaman jiwa kemanusiaan,” ucapnya. (Adv/PKP)

Related posts

Leave a Reply