IDEALOKA.COM (Bondowoso) – Konsistensi SMKN 1 Klabang, Kabupaten Bondowoso, untuk terus memperjuangkan visi besarnya menyelenggarakan Sekolah Gratis Kwalitas Teratas (Seger Waras) tidak diragukan lagi.
Salah satunya dengan menggelar pelatihan deep learning yang dilaksanakan Jumat, 3 Januari 2025.
Kepala SMKN 1 Klabang Daris Wibisono Setiawan menegaskan Pembelajaran deep learning dalam pendidikan modern tidak hanya terbatas pada teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), tetapi juga mencakup cara belajar mendalam untuk memahami dan menerapkan pengetahuan.
“Pada konteks kurikulum sekolah, metode ini berfokus pada pengembangan keterampilan berpikir kritis, analisis mendalam, dan pengaplikasian ilmu dalam berbagai situasi” ujar Daris.
BACA: Maknai Tragedi Gerbong Maut, Guru SMKN 1 Klabang Mendongeng dan Ajak Siswa Nobar Film
Daris juga menyampaikan dengan menggunakan pendekatan ini, siswa diharapkan dapat menghubungkan konsep antarmata pelajaran, menggali akar masalah, dan memecahkan persoalan dengan pendekatan analitis yang mendalam.
Pelatihan yang dilaksanakan di Aula Krida Widya Dharma tersebut dibimbing langsung oleh empat guru penggerak SMKN 1 Klabang, yakni Tri Andoko Pramono, Agnes Feryza Widiyanti, Novie Ariyanti, dan Diny Rosita Hidayati.
“Deep learning dapat diterapkan melalui pembelajaran berbasis proyek (project–based learning), pembelajaran berbasis inkuiri, studi kasus, atau simulasi kehidupan nyata,” ujar Tri Andoko yang juga Waka Kurikulum SMKN 1 Klabang.
BACA: Maknai Sumpah Pemuda, Siswa SMKN 2 Bondowoso Gelar Lomba Drama dan Cerdas Cermat
Sementara itu, Diny Rosita Hidayati menjelaskan bahwa deep learning membawa angin segar bagi kurikulum sekolah dan menciptakan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan abad ke-21.
Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengasah keterampilan analitis, kreativitas, dan kemampuan berkolaborasi.
“Untuk mengoptimalkan potensi ini diperlukan dukungan penuh dari seluruh ekosistem pendidikan, termasuk guru, siswa, dan pemangku kebijakan” kata Diny. (*)





