IDEALOKA.COM – Bencana banjir bandang dan longsor di sejumlah kabupaten dan kota di Sumatra Utara, Aceh, dan Sumatra Barat, Selasa, 25 November 2025, menyisakan sejumlah pertanyaan. Apakah penyebabnya hanya karena hujan ekstrem akibat badai Senyar?
Dinamika cuaca global yang bisa menyebabkan munculnya badai itu pasti dan manusia tidak bisa selalu mengintervensi cuaca, apalagi jika lintas negara atau benua.
Pertanyannya adalah, apa yang harus dipertahankan untuk meminimalkan dampak cuaca ekstrem?
Sebaliknya, apakah hutan sebagai bentang dan benteng alam, termasuk di Pulau Sumatra, sudah begitu masif dikonversi dengan perkebunan terutama kelapa sawit dan dieksploitasi untuk kepentingan industri termasuk tambang?
Mari kita lihat penampakan salah satu hutan penting di Sumatra Utara, yakni Hutan Batang Toru di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan.
Hutan ini disebut sebagai Harangan Tapanuli. Harangan adalah kata dalam bahasa Batak yang berarti wilayah hutan di daerah perbukitan yang menjadi sumber air warga.
Jika melihat bentang alam di Hutan Batang Toru berdasarkan citra satelit yang terekam sejak 2009 hingga 2022 terjadi deforestasi atau pembukaan lahan dalam jumlah masif dan luas bentang alam yang dieksploitasi terus bertambah.
Lihat rekaman citra satelit dan foto-foto di bawah ini:


Pembukaan lahan yang paling masif dilakukan untuk eksplorasi dan eksploitasi proyek Tambang Emas Martabe yang dilakukan sejak 2009. Nama perusahaan operator proyek ini sempat berganti nama hingga menjadi PT Agincourt Resources (PTAR) yang 95 persen sahamnya diakusisi PT Danusa Tambang Nusantara.
Saham PT Danusa Tambang Nusantara dimiliki PT United Tractors Tbk (60 persen) dan PT Pamapersada Nusantara (40 persen) yang merupakan bagian dari Astra Group.
Martabe merupakan akronim akronim dari frasa bahasa Batak “marsipature huta na be“, yang memiliki arti “membangun kampung halaman masing-masing” atau “mari benahi kampung halaman masing-masing“.
Slogan “martabe” ini pupoler di masyarakat Batak sejak tahun 1980-an dan akhirnya dipakai untuk nama proyek tambang emas dan perak di Hutan Batang Toru, Tapanuli. Pemilihan nama atau slogan ini diduga untuk memberikan kesan positif pada proyek tambang emas tersebut.




