IDEALOKA.COM – Idealoka.com (PT Idealoka Media Grup) kembali menjalin kerjasama dengan dunia pendidikan untuk menyebarluaskan literasi digital dan mengasah potensi siswa dalam keahlian di bidang jurnalistik.
Kali ini idealoka bekerjasama dengan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Roudlotun Nasyi’in, Desa Beratkulon, Kecamatan Kemlagi, Kabupatan Mojokerto, Jawa Timur. MTs Roudlotun Nasyi’in merupakan salah satu unit pendidikan di bawah Yayasan Pondok Pesantren Roudlotun Nasyi’in.
Dalam pelatihan yang digelar Minggu, 14 Desember 2025 ini, siswa putra maupun putri dari kelas VII, VIII, dan IX diberikan pemahaman tentang literasi digital termasuk bagaimana memanfaatkan perangkat digital dan membuat konten yang tidak melanggar hukum.
BACA: Jurnalis Cilik Siswa MI dan MTs Darun Najah Meliput Porseni MI se-Jatim
Selain itu, siswa juga dibekali dengan pengetahuan dan keahlian dalam jurnalistik termasuk menulis berita, wawancara dengan narasumber, dan membuat website berita.

Kepala MTs Roudlotun Nasyi’in, Ma’ruf Alhasani, mengapresiasi pelatihan jurnalistik tersebut.
“Lewat pelatihan jurnalistik dasar ini, kami ingin mengajak siswa untuk berani menulis, bercerita, dan menyampaikan ide-ide positif mereka. Jurnalistik bukan hanya soal menulis berita, tapi juga melatih kepekaan, kejujuran, dan cara berpikir kritis. Semoga ilmu yang didapat bisa bermanfaat dan menjadi bekal bagi siswa, baik di madrasah maupun di luar nanti,” katanya.
BACA: Pelatihan Jurnalistik MA Al Islamy Sedati, Liputan dan Buat Website Berita
Sementara itu, Wakil Kepala MTs Rodlotun Nasyi’in, Sholeh Almadani, juga menyampaikan apresiasi atas suksesnya pelaksanaan Pelatihan Jurnalistik Dasar bagi siswa MTs Raudlatun Nasyi’in.
“Program ini bukan hanya kegiatan ekstrakurikuler semata, melainkan integrasi strategis dalam pengembangan Kurikulum Merdeka yang menekankan pada literasi digital dan keterampilan abad ke-21,” katanya.

Materi jurnalistik dan literasi digital kali ini disampaikan Pemimpin Redaksi idealoka.com, Ishomuddin. Jurnalis yang biasa dipanggil Ishom ini mengatakan anak-anak sejak dini harus diberikan pemahaman tentang literasi digital.
“Perangkat digital itu hanya alat bantu, tugas kita mengarahkan anak-anak agar memanfaatkan perangkat digital dengan baik dan bijak, serta tidak melanggar hukum yang berlaku di negara ini,” katanya.
BACA: Diklat Jurnalistik, Siswa SMA Kemala Bhayangkari 3 dan SMAN 3 Sidoarjo Blusukan Pasar Porong
Ishom juga menegaskan bahwa teknologi digital termasuk program atau aplikasi digital berupa kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) hanyalah alat bantu dan bukan sumber informasi yang utama.
“Informasi yang dihimpun dan dianalisis dengan teknologi AI tidak selalu benar atau valid, ini yang harus diingatkan pada anak-anak,” katanya.


Para guru dan narasumber bersama para peserta Pelatihan Jurnalistik Dasar siswa MTs Roudlotun Nasyi’in, Desa Beratkulon, Kec. Kemlagi, Kab. Mojokerto, Minggu, 14 Desember 2025. Foto: MTs Roudlotun Nasyi’in
Menurutnya, informasi yang diproduksi dengan AI juga punya keterbatasan terutama informasi yang lokal, khusus, atau spesifik di sebuah daerah.
“Informasi yang yang dihimpun dan diolah dengan AI itu tergantung basis datanya, jika basis datanya tidak menyediakan data yang diinginkan pengakses atau konsumen, ya tidak akan muncul informasi yang diinginkan atau bisa jadi informasinya kurang tepat,” katanya.
BACA: Darun Najah dan Idealoka Gelar Pelatihan Jurnalistik bagi Siswa MI dan MTs
Ishom juga mengingatkan dampak negatif teknologi AI yang akhirnya membuat orang tidak lagi kreatif karena semua hal dibuat secara instan dan cepat dengan AI.
“Ini yang membuat anak-anak kita nanti inginnya secara instan dan cepat, tanpa tahu proses-proses kreatif yang semestinya bisa dilakukan secara khusus dan detail untuk mengasah keterampilan atau keahlian anak-anak,” ujar jurnalis yang juga menjadi Koresponden Tempo ini.
Ishom mengapresiasi pelatihan yang digelar MTs Roudlotun Nasyi’in. Para siswa tampak antusias pada sesi wawancara dengan narasumber.
“Anak-anak sudah berani dan kritis dalam memberikan pertanyaan pada narasumber, tinggal perbaikan untuk penulisan berita yang baik dan benar mengacu Kamus Besar Bahasa Indonesua (KBBI) maupun Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) yang berubah istilah menjadi Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) Edisi V,” ujar alumnus Lembaga Pers Mahasiswa Sastra (LPMS) Fakultas Sastra Universitas Jember ini. (*)





