IDEALOKA.COM (Banyuwangi) – Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia pada tahun 2019 hingga 2020 lalu telah memporak porandakan negeri ini dari segi kesehatan maupun ekonomi, tidak terkecuali di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Namun di kabupaten ujung timur Jawa tersebut, ada sebuah kampung, yaitu Dusun Gunung Remuk, Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, yang masyarakatnya berhasil melewati dampak badai Covid-19 dengan baik.
Di dusun itu, ada sebuah komunitas, yaitu Rumah Literasi Indonesia (RLI) Banyuwangi. Komunitas yang digawangi sejumlah anak muda ini mendirikan sekolah pengasuhan berbasis komunitas.
Di sekolah ini, para siswanya bukan siswa usia pelajar pada umumnya, namun justru peserta didiknya adalah orang tua dari para pelajar yang mengenyam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) maupun Taman Kanak-kanak di dusun itu.
Saya berkesempatan mengunjungi sekolah pengasuhan berbasis komunitas ini di markas Rumah Literasi Idnonesia (RLI). Di tempat tersebut, saya ditemui founder RLI Banyuwangi, Tunggul Harwanto.
Tunggul menceritakan awal berdirinya sekolah pengasuhan anak berbasis komunitas ini. Akibat keresahan yang dia alami dengan kondisi di kampungnya. Dusun Gunung Remuk, pada tahun 2014 yang lalu, angka pernikahan dini atau pernikahan usia anak sangat tinggi. Sehingga berakibat pada angka perceraian yang cukup tinggi.
BACA: Pemkab Banyuwangi Dampingi Balita Korban Penganiayaan Ibu Tiri dan Ayah Kandung
“Kami melakukan riset dan penelitian pada waktu itu, sangat tinggi sekali angka pernikahan anak. Sehingga berpikir apakah kami tidak berbuat apa-apa untuk kampung ini. Karena akibat penikahan usia anak ini, di kampung kami ini juga banyak janda yang masih di bawah umur,” ujar Tunggul, Senin, 7 Oktober 2024.
Kata Tunggul, tidak hanya sebatas itu, penyebab banyaknya pernikahan usia anak ini karena anak-anak di Dusun Gunung Remuk ini tidak mempunyai kegiatan yang positif. Mereka justru cendrung pada pergaulan bebas, mengkonsusmi minuman keras, dan hal-hal negatif lainnya.

“Melihat kondisi inilah, kami muncul ide untuk membuat sekolah pengasuhan berbasis komunitas di Dusun Gunung Remuk ini. Pesertanya berbagai macam latar belakang, mulai dari ibu rumah tangga, para pemuda, termasuk ibu-ibu muda korban pernikahan usia anak,” kata Tunggul.
Menurut Tunggul, sekolah pengasuhan ini memang berbasis komunitas, sehingga masyarakat bisa mengetahui bahwa mengenyam pendidikan itu tidak hanya di sekolah, tapi juga di komunitas atau kelompok juga bisa mendapatkan pendidikan sekolah.
“Di sekolah pengasuhan ini ada sepuluh modul dasar. Yang paling utama kita ajari bagaimana mengasuh anak yang benar. Selain itu, pemberdayaan ekonomi juga kita berikan,” tutur Tunggul.
Berjalan selama tiga tahun, sekolah pengasuhan berbasis komunitas ini semakin banyak diminati, sehingga kata Tunggul, pihaknya membuka sekolah pengasuhan di beberapa tempat di Desa Ketapang.
“Pada 2017 itu, karena ternyata sekolah pengasuhan ini banyak yang berminat menjadi siswa akhirnya kita mencoba membuka di beberapa tempat, seperti di Dusun Pancoran Atas, Dusun Krajan, dan Dusun Gunung Remuk ini kita buka lagi. Untuk siswanya mencapai 600 orang,” katanya
BACA: Menparekraf Sandiaga Luncurkan Pariwisata 3B, Hubungkan Banyuwangi dan Bali
Di tahun keenam, sekolah pengasuhan berbasis komunitas ini akhirnya mendapat perhatian dari sejumlah kalangan, mulai dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi hingga perusahan milik pemerintah. Pada tahun 2019 di awal pandemi Covid-19, PT Pertamina memberikan bantuan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) untuk sekolah pengasuhan berbasis komunitas ini.

“Bantuan dari Pertamina ini lebih dititikberatkan pada pemberdayaan ekonomi untuk peserta didik, seperti pelatihan membuat produk makanan dan pemasaran,” kata Tunggul.
Pelatihan membuat aneka masakan dan bantuan peralatan ini diharapkan bisa menopang perekonomian keluarga. Sebab, pada saat pandemi Covid-19, perekominian cukup kacau.
Mengerti Pola Asuh Anak Yang Benar
Sementara itu, salah seorang peserta didik Sekolah Pengasuhan Berbasi Komunitas Esih Estiasih mengatakan dia mengikuti sekolah pengasuhan selama kurang lebih 2 tahun di Rumah Literasi Indonesia (RLI).
Selama kurun waktu tersebut, dia diajari cara mengasuh anak yang benar tanpa ada kekerasan terahadap anak.
Menurutnya, selama mengikuti sekolah pengasuhan, dia lebih mengerti cara mendidik dan menghadapi anak yang baik tanpa mengedepankan egoisme orang tua, sehingga kekerasan terhadap anak bisa dicegah.
“Awalnya saya mengakui menghadapai anak itu dengan penuh emosi, apalagi ketika diajari pada saat belajar, dia terkadang justru mengabaikan, sedangkan kita khan kepingin anak kita itu pintar di sekolah, sehingga tanpa sadar saya melakukan kekerasan, seperti menjewer, membentak, karena emosi tadi,” tutur Esih.
BACA: Menparekraf Sandiaga Sebut Pariwisata Banyuwangi Terbaik, Ini Alasannya
Tapi setelah ikut sekolah pengasuhan ini, apa yang sudah diterapkannya selama ini banyak yang tidak benar, sehingga nantinya akan berdampak pada tumbuh kembang anak ke depannya.
“Bahkan apa yang saya lakukan selama ini terkesan lebih memaksakan, sehingga anak menjadi tertekan,” katanya.
Bangkit dari Keterpurukan Ekonomi
Di sekolah pengasuhan berbasis komunitas ini, selain diajari pola asuh anak yang baik dan benar, juga diajari pemberdayaan ekonomi, seperti pelatihan membikin masakan olahan dan sistem pemasarannya.
“Saya ikut sekolah pengasuhan awal-awal dibukanya sekolah pengasuhan itu khan, nah di awal- awal diajari tentang pola asuh anak, setelah itu pemberdayaan ekonomi, seperti pelatihan memasak, membuat kue, dan masakan lainnya. Selain itu, marketing juga diajari,” kata Esih.
Selang satu tahun tepatnya pada tahun 2019 lalu, dia juga mendapat bantuan pelatihan produk olahan dari PT Pertamina. Dalam pelatihan itu diajari cara mengembangkan produk olahan agar tidak mati, terlebih lagi pada saat itu Indonesia sudah dilanda pandemi Covid-19.
BACA: Tekan Nikah Dini, Lintas Instansi di Banyuwangi Perketat Syarat Dispensasi Nikah
“Kita digembleng untuk menghasilkan produk yang bagus dan bernilai ekonomi tinggi oleh mentornya,” katanya.
Setelah mengikuti pelatihan, Esih bisa membuat sejumlah produk UMKM untuk dijual, seperti minumam herbal dan makanan olahan lainnya. Sehingga, pada saat pandemi Covid-19 melanda, dia bisa bertahan dengan berjualan produk olahan yang dibuatnya.

“Alhamdulillah pada saat pandemi Covid -19 saat itu, produk saya justru laris dibeli orang, sehingga bisa membantu perekonomian keluarga, terlebih lagi suami saya tidak bekerja akibat Covid-19,” katanya.
Hingga saat ini, Esih mengatakan bisa terus mengembangkan produk olahannya lebih luas. Sehingga pendapatannya juga lebih meningkat. Per bulan, dia bisa meraup keuntungan Rp3juta hingga Rp4 juta.
“Untuk produk makanan yang saya buat dan saya jual saat ini lebih bervariasi, tergantung permintaan pasar, sekarang saya jual secara online maupun offline. Kuntungannya juga lumayan,” katanya.
Sekolah Pengasuhan Cara Menekan Angka Kekerasan Anak di Banyuwangi
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Keluarga Berencana Kabupaten Banyuwangi Henik Setyorini mengatakan sistem sekolah pengasuhan tersebut sangat membantu menekan angka kekerasan terutama pada anak.
Sebab, kekerasan pada anak terjadi karena banyak faktor, mulai dari pernikahan dini hingga faktor ekonomi.
“Sekolah pengasuhan ini sangat membantu kami di pemerintahan untuk bisa menekan angka kekerasan anak terutamanya, sehingga sekolah pengasuhan ini kami jadikan strategi untuk memberikan wawasan terhadap ibu rumah tangga terutama ibu muda cara mengasuh anak yang baik dan benar,” kata Henik.
BACA: Menantikan Cafe Museum Blambangan, Ngopi sambil Belajar Sejarah
Henik mengatakan hingga tahun 2023, angka kekerasan perempuan dan anak di Banyuwangi masih tinggi. Hingga September 2023, angka kekerasan pada perempuan dan anak tembus hingga 57 kasus. Jumlah ini meningkat dua kali lipat dibanding tahun 2022 lalu yang mencapai 29 kasus.
“Kita bergerak dengan Satgas Kekerasan Perempuan dan Anak yang melibatkan Polres dan lain sebagainya. Kita akan terus turun ini untuk pencegahan kekerasan sebenarnya. Kita masih cari pola-pola skema yang pas seperti apa untuk menurunkan angka kekerasan perempuan dan anak dan salah satunya melalui sekolah pengasuhan itu,” tuturnya.
Lakukan Pemetaan dan Kondisi Sosial
PT Pertamina Patra Niaga Wilayah Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) menyatakan sebelum melaksanakan program CSR, yang dilakukan adalah melakukan pemetaan dan kondisi sosial di Banyuwangi.
Area Manager Comm Rel dan CSR Pertamina Patra Niaga Wilayah Jatimbalinus Ahad Rehedi mengatakan setiap pelaksanaan program CSR diawali dengan pemetaan sosial yang ada di masyarakat secara geografis dan juga demografis.
BACA: Erick Cek Pertashop, Diharapkan Bantu Pemulihan Ekonomi akibat Covid-19
“Tentunya semua potensi ini tidak lepas dari latar belakang masalah di masing-masing wilayah. Kami lihat potensi untuk Kampoeng Papring kebetulan secara potensi sumber daya alam yang ada, yakni tempat bambu sehingga bisa dikembangkan,” kata Ahad.
Menurutnya, sejak tahun 2019, Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus melalui Integrated Terminal Tanjung Wangi Banyuwangi telah menggelontorkan program CSR di sejumlah tempat di Banyuwangi. Salah satunya di Rumah Literasi Indonesia (RLI).
“Sekolah pengasuhan berbasis komunitas ini salah satu CSR kita karena kita peduli. Dan CSR lainnya juga ada, seperti di Kampung Papring, Bangsring Underwater, dan sejumlah tempat lainnya. Kami akan terus bergerak untuk menebar kebaikan ini,” katanya. (*)





