Sementara itu, Nurina menambahkan eksistensi dan profesionalisme jurnalis Tempo dalam podcats Bocor Alus berdampak positif pada kepentingan publik.
“Kehadiran Bocor Alus telah mengisnpirasi masyarakat Indonesia akan pentingnya memperjuangkan kebebasan pers. Kebebasan pers sangat dibutuhkan untuk pemenuhan hak atas informasi. Kebebasan pers diperlukan untuk kebebasan berekspresi masyarakat Indonesia,” katanya.
BACA: Larang Karya Investigasi, Dewan Pers dan Organisasi Pers Tolak RUU Penyiaran
Empat jurnalis Tempo sebagai podcaster Bocor Alus hadir menerima penghargaan tersebut. Mereka adalah Stefanus Pramono yang akrab dipanggil Pram, Raymundus Rikang, Hussein Abri Dongoran, dan Francisca Christy Rosana alias Cicha.
Jurnalis Tempo lainnya, Nurhadi, juga pernah menerima Udin Award saat peringatan HUT AJI ke-27 pada 7 Agustus 2021.
Nurhadi mengalami penganiayaan, intimidasi, dan penyekapan oleh aparat kepolisian yang berjaga saat ia berusaha meminta konfirmasi pada terpidana gratifikasi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) mantan Direktur Pemeriksaan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Angin Prayitno Aji saat resepsi pernikahan anak Angin di Surabaya, 27 Maret 2021. Dua aparat kepolisian yang menganiaya Nurhadi sudah divonis bersalah oleh pengadilan.
BACA: REFLEKSI HARI KEBEBASAN PERS: Pingpong dan Ketukan Palu Hakim yang Menyakitkan
Nama Udin Award terinspirasi dari nama jurnalis surat kabar Harian Bernas, Fuad Muhammad Syafruddin atau akrab disapa Udin. Udin dianiaya orang tak dikenal di rumah kontrakannya di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, 13 Agustus 1996, hingga tak sadarkan diri dan meninggal dunia pada 16 Agustus 1996 setelah menjalani operasi otak akibat pendarahan di kepala.