Tayang 8 Jam, Penonton Film “Dirty Vote” Tembus 1 Juta Lebih

Dokumenter Dirty Vote yang disutradarai Dandhy Dwi Laksono ini merupakan film keempat yang disutradarainya mengambil momentum pemilu. Pada 2014, Dandhy lewat rumah produksi WatchDoc meluncurkan film “Ketujuh” dimana masa itu Jokowi dielu-elukan sebagai sosok pembawa harapan baru.

Pada 2017, Dandhy menyutradarai “Jakarta Unfair” tak berapa lama menjelang Pilkada DKI Jakarta. Dua tahun kemudian, film Sexy Killers tembus 20 juta penonton di masa tenang Pemilu 2019. Sexy killers membongkar jaringan oligarki bercokol pada kedua pasangan calon yang berlaga saat itu, Jokowi-Maruf Amin versus Prabowo-Hatta.

Read More

BACA: Grafik Dana Kampanye 18 Parpol Peserta Pemilu 2024 di Jatim

Seyogyanya menurut Dandhy, Dirty Vote akan menjadi tontonan yang reflektif di masa tenang pemilu. Diharapkan tiga hari yang krusial menuju hari pemilihan, film ini akan mengedukasi publik serta banyak ruang dan forum diskusi yang digelar.

“Ada saatnya kita menjadi pendukung capres-cawapres. Tapi hari ini, saya ingin mengajak setiap orang untuk menonton film ini sebagai warga negara,” kata Dandhy yang lama mengenyam sebagai jurnalis di berbagai platform media dan tergabung dalam AJI.

Berbeda dengan film-film dokumenter sebelumnya di bawah bendera WatchDoc dan Ekspedisi Indonesia Baru, Dirty Vote lahir dari kolaborasi lintas CSO. Ketua Umum SIEJ sekaligus produser, Joni Aswira, mengatakan dokumenter ini sesungguhnya juga memfilmkan hasil riset kecurangan pemilu yang selama ini dikerjakan koalisi masyarakat sipil. Biaya produksinya dihimpun melalui crowd funding, sumbangan individu dan lembaga.

“Biayanya patungan. Selain itu Dirty Vote juga digarap dalam waktu yang pendek sekali sekitar dua minggu, mulai dari proses riset, produksi, penyuntingan, hingga rilis. Bahkan lebih singkat dari penggarapan End Game KPK (2021),” katanya.

BACA: Parpol Mana Paling Banyak dan Sedikit Gunakan Dana Kampanye di Jatim?

Penggarapan video dokumenter ini melibatkan 23 lembaga antara lain WatchDocAliansi Jurnalis Independen (AJI), Greenpeace Indonesia, Indonesia Corruption Watch (ICW)Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (The Society of Indonesian Environmental Journalists/SIEJ), Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Ekspedisi Indonesia Baru, Bangsa Mahardika, Ekuatorial, Fraksi Rakyat Indonesia, Lokataru, Salam 4 Jari, Themis Indonesia, Visi Integritas, Yayasan Dewi Keadilan, Yayasan Kurawal, Satya Bumi, KBR, dan Jeda Untuk Iklim.

WatchDoc adalah sebuah rumah produksi yang didirikan Andhy Panca Kurniawan dan Dandhy sejak 2009 dan telah memproduksi lebih dari 400 film dokumenter, 1.000 karya features televisi, dan sediktinya 100 video komersil.

Berkat konsistensi dan karya yang komprehensif, Watchdoc berhasil menjadi salah satu penerima penghargaan bergengsi di tingkat Asia, Ramon Magsaysay, untuk kategori Emergent Leadership tahun 2021 dan penghargaan diserahkan pada 11 November 2023 di Manila, Filipina. (*)

Related posts

Leave a Reply